Rabu, 20 Juni 2012

Kuningan

KUNINGAN

Úaniúcara Kliwon Kuningan: 

Memuja Hyang Widhi, memohon kesentausaan dan kedirgahayuan (panjang umur), serta perlindungan dan tuntunan lahir-batin. Di tiap-tiap rumah juga kembali menghaturkan penghormatan kepada para dewa pitara (leluhur) di merajan masing-masing.

Hari raya Kuningan jatuh pada setiap hari Sabtu atau tepatnya Úaniúcara Kliwon Wuku Kuningan yang datang setiap enam bulan atau 210 hari. Pada hari raya Kuningan ini umat Hindu menghaturkan sesajen kehadapan para dewa dan leluhur sebagai bentuk rasa syukur. 
Menurut lontar Sundarigama sebaiknya umat Hindu menghaturkan sesajen pada pagi hari, sebelum tengah hari (pukul 12.00), karena menurut konsep Teologi Saguóa Brahma jika persembahan atau persembahyangan dilaksanakan lebih dari pukul 12.00 berarti pada dewa-dewi, bhaþþàra-bhaþþàri, para pitara atau para leluhur telah kembali ke tempatnya masing-masing. 
Konsep untuk melaksanakan persembahan dan persembahyangan sebelum pukul 12.00 memiliki nilai pendidikan tentang kedisiplinan yang cukup efektif. Karena setiap orang yang diperintahkan oleh agamanya akan dilaksanakan dengan patuh. 
Hari raya Kuningan merupakan hari yang mendidik umat Hindu menjadi disiplin, karena itu pada hari Kuningan setiap umat Hindu bangun lebih pagi dengan harapan tidak terlambat untuk melaksanakan persembahyangan. 
Umat Hindu takut jika persembahyangannya tidak disaksikan oleh para dewa dan para leluhurnya karena para dewa dan leluhur telah kembali ke sorga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar