Sabtu, 08 Desember 2012

DAYA MANTRA


MENGHIDUPKAN DAYA MANTRA

Setelah melaksanakan ritual dengan menghaturkan sajen atau banten sesuai dengan yang disyaratkan, dan mantra-mantra kawisesan leak sari pun sudah anda hafal semuanya, itu tidak berarti anda sudah menguasai ajaran leak sari ini. Tidak otomatis anda menjadi sakti, tidak serta merta daya ilmu itu bisa anda gunakan. Anda harus menghidupkannya terlebih dahulu, dengan jalan melaksanakan tapa brata yoga semadhi, disuatu tempat yang dianggap angker, wingit atau keramat. Asal jangan di kuburan, karena kuburan adalah tempat menghidupkan ajaran leak ugig, desti, aneluh aneranjana.

      Bila anda sudah memutuskan untuk bertapa, maka pilihlah hari yang dianggap baik dan juga wingit. Biasanya hari yang dipilih adalah malam Selasa Kliwon atau malam Jumat Kliwon. Lamanya bisa satu malam, tiga malam, tujuh malam atau empat puluh malam. Tergantung tekad dan niat anda.
      Apa yang harus dibawa agar kita selamat bila pergi ketempat tempat seperti itu? Tidak lain hanyalah kemauan yang keras, hati yang teguh, tekad yang bulat, keberanian yang tak gentar mempertahankan tujuan, dan semangat yang tak kunjung patah, tak lekang oleh panas tak rapuh oleh hujan, sebelum mendapatkan apa yang di inginkan, yaitu keberhasilan yang berupa kebangkitan daya mantra.
     Memang pada langkah awal, orang yang menjalani suatu tapa, akan mengalami bermacam-macam cobaan dan rintangan, serta beraneka ujian batin yang berat. Maka tak usah heran, dari dulu sampai sekarang begitu banyak orang yang mempelajari leak sari, namun hanya sedikit yang berhasil.
     Biasanya setelah anda memutuskan untuk bertapa di suatu tempat yang telah ditentukan, maka pada suwaktu tertentu akan datang wangsit, pewisik atau wahyu.
Di situlah roh penguasa di tempat itu akan berbicara kepada anda. Anda akan diberitahu apa mantra dan sandi yang didapatkan dari roh itu, tergantung keperluan dan niat anda. Untuk kebal? Untuk memdapatkan kewibawaan? Untuk mencari jodoh? Untuk mencari kekayaan atau kekuasaan? Atau untuk menghidupkan daya mantra yang telah anda miliki?
      Apabila mantra itu sudah didapatkan, yang tidak lain adalah merupakan kunci untuk menghubungi roh tersebut, maka saat itu juga kekuatan yang diminta langsung berfungsi. Jadi pada waktu orang bertapa-lah, maka roh itu akan memberikan sandi mantra yang sesung guhnya. Anda harus benar-benar menghafal mantra itu secara terus menerus supaya tidak lupa. Dan mantra itu tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa lain.
        Misalnya suatu mantra diberikan dalam bahasa Bali kuno atau bahasa kawi, tapi karena ingin terdengar keren dan modern, maka anda menggantinya dengan bahasa Inggris. Sandi itu bubar. Mantra menjadi tidak berfungsi. Mantra itu sifatnya paten, tidak bisa dikurangi, tidak bisa ditambah.
            Sehingga ada orang yang belajar mantra atau ilmu tertentu dari seorang guru atau dukun sakti sampai bertahun-tahun, sampai kepalanya botak, tidak kunjung bisa, bahkan sampai menjadi gila.
            Karena apa?
            Berarti ada bagian sandi yang tidak ditulis disitu. Atau ada sandi yang sengaja tidak diturunkan atau tidak diberitahu oleh gurunya. Mungkin gurunya takut muridnya kuwalat jadi ilmunya tidak diturunkan semua.
     Setiap mantra atau ilmu-ilmu lainnya ada roh penjaganya. Ini lah yang membedakan kesaktian seorang penganut ajaran Pengiwa. Biasanya terbagi atas tiga tingkatan ilmu. Tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat tinggi.
      Jadi kalau sekarang ada seorang Balian, dukun atau paranormal yang mengaku-ngaku sakti, mengaku paranormal nomer satu, maka cara mengujinya cukup gampang. Lihat saja pantangan ilmunya apa. Ilmu yang rendah akan memiliki banyak pantangan, sedangkan semakin tinggi tingkat ilmunya akan semakin sedikit pantangannya.
       Karena guru spiritual, paranormal, dukun atau balian yang benar-benar sakti mandraguna, jarang sesumbar atau gembar-gembor di media massa. Mengapa jarang? Sederhana sajalah, tidak usah pakai promosi dan publikasi, orang sudah berbondong-bondong mencarinya. Dari mulut ke mulut saja orang akan mengenal kesaktiannya.
       Hal yang lainnya adalah, ilmu tingkat tinggi tidak akan mudah dikalahkan oleh hal-hal remeh. Ada banyak tokoh leak yang saya tahu berilmu tinggi, penampilannya biasa-biasa saja, tenang dan ramah, tapi sekali dia aneranjana orang dalam lima menit orang itu pasti kelojotan dan Ngek! (mati). Contohnya adalah Walunateng Dirah, wanita cantik molek, ramah dan murah senyum. Tapi begitu dia marah kepada suaminya yang tidak mau menggendong anaknya saat paseban agung, dia pandreng suaminya dan tidak sampai lima menit Ngek! Suaminya langsung mati di tempat. Makanya, jangan tertipu oleh keramahan seseorang, atau penampilan luarnya saja, apalagi orang tersebut telah “dicurigai” bisa ngeleak, jangan jangan anda sendiri nanti bisa di Ngek!  Iiiihhhhh - takuuuutttt. Karena keramahan itu biasanya dipakai jalaran agar dapat selalu dekat dengan calon korbannya, sehingga sewaktu-waktu bisa dengan mudah dicelakai.
          Sebagaimana paranormal, dukun atau balian memiliki tingkatan ilmu, maka kekuatan mantra juga memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Sekarang di mana letak perbedaan tingkat-tingkat mantra ini?
     Rahasianya terdapat pada jabatan roh pemberi sandinya. Roh pemberi mantranya.
     Kalau roh yang memberi sandi itu kepada anda langsung dari roh yang berpangkat jendral, maka kesaktiannya akan melebihi yang lain. Tapi kalau yang memberi sandi itu hanya roh setingkat kopral, maka kesaktian yang anda dapatkan hanyalah sekelas kopral. Dengan roh bertingkat letnan saja kesaktiannya sudah kalah, sandinya sudah tidak berlaku.
     Karena di dalam kerajaan roh pengiwa dikenal pangkat-pangkat. Yang tertinggi tentu saja Sang Maha Kala, dan ia memiliki jendral-jendral sampai ke tingkat yang terendah seperti danyang-danyang, penunggu-penunggu. Makanya orang yang bertapa di gunung Agung pasti berbeda kwalitas kesaktiannya dari mereka yang bertapa di pinggir kali, misalnya.
      Dulu ketika saya masih berguru, masih belajar ilmu dan ngelmu. Saya mendapat pengetahuan tentang tenaga dalam dan mantra ala kebatinan. Para guru saya mengajarkan bahwa di dalam diri manusia ada kekuatan. Katanya kekuatan itu ada pada manusia sejak lahir. Alamiah. Dan sumber kekuatannya ada lima senti dibawah pusar. Ingat, bukan kemaluan! Juga di tulang ekor. Kalau energi ini sampai terputus, akan ada pusara. Artinya mati.
Beliau juga dulu mengajarkan bahwa di alam semesta ada energi positif dan energi negatif. Yaitu kekuatan Dewa dan kekuatan Pengiwa. “Bila engkau menyatu dengan alam, disitulah kekuatan akan timbul”. Demikian ia memberi wejangan. Dilanjutkan lagi: “Kekuatan itu mengalir seperti listrik, dan kekuatan itu menyatu di dalam dirimu dan disitulah rahasia kesaktian akan kamu dapatkan”.
      Setelah guru menganggap saya sudah menguasai teori kebatinan ini, barulah saya diajarkan mantranya supaya saya dapat memakainya. Apalagi waktu itu mereka mendapat wangsit bahwa saya ditunjuk sebagai pewaris tunggal ilmu mereka. Jadi lebih mudah tetapi tetap tidak boleh dianggap enteng.
       Tapi herannya zaman sekarang, orang belajar ilmu dan mantra seperti masuk kursus mengemudi saja. Pakai brosur dan iklan dan dijamin tiga bulan langsung bisa dan siapapun diterima tanpa seleksi. Tanpa teori-teorian. Pokoknya bayar uang dimuka, mantra diajarkan dan dimasukkan ke dalam tubuh. Selesai. Prinsipnya. Bisa ya sukur, tidak bisa ya sudah.
    Ilmu pengiwa tidak bisa diobral seperti itu, apalagi yang namanya Pengiwa Sampurna. Dia harus digali dihidupkan lewat tapa brata dan yoga semadhi. Mungkin ada saja dukun atau balian yang dapat menciptakan pengiwa siap saji atau siap pakai, tapi biasanya ilmu yang seperti itu berkwalitas rendah. Tidak bisa diandalkan.
     Pesan saya ilmu ini adalah ilmu keramat, jangan pernah anda mempelajarinya karena iseng atau ingin coba-coba saja. Akibatnya bisa gawat. Bacalah dengan seksama, setelah anda pahami apa yang tersurat dan tersirat di dalamnya, barulah anda mempraktekkannya. Semoga berhasil.

(Sumber : Buku Leak Sari, Paramita Surabaya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar