Rabu, 24 Oktober 2012

Hermeneutik


Teori Hermeneutik
Secara etimologis hermeneutik berasal dari kata hermeneuein, bahasa Yunani, yang berarti “menafsirkan atau menginterpretasikan”. Secara mitologis hermeneutik  dikaitkan dengan Hermes, nama Dewa Yunani yang menyampaikan pesan Illahi kepada manusia. Pada dasarnya medium pesan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Jadi, penafsiran disampaikan lewat bahasa, bukan bahasa itu sendiri. Karya sastra perlu ditafsirkan sebab di satu pihak karya sastra terdiri atas bahasa, di pihak lain, di dalam bahasa sangat banyak makna yang tersembunyi atau dengan sengaja disembunyikan (Kutha, 2004: 45). Pada mulanya hermeneutik berkaitan erat dengan kitab suci yang digunakan untuk menafsirkan komentar-komentar aktual atas teks kitab suci atau eksegese (Irmayanti, 2004:22).

Hermeneutik merupakan hasil pemikiran Friederich Schleiermacher (1768-1834), ahli teologi dan juga ahli filologi klasik dari Jerman. Ia berasumsi bahwa jika orang memahami sesuatu, hal itu terjadi karena analogi, yakni dengan jalan membandingkannya dengan sesuatu yang lain yang sudah diketahuinya. Selanjutnya yang diketahui itu membentuk kesatuan-kesatuan yang bersistem atau  juga membentuk lingkaran-lingkaran yang terdiri atas bagian-bagian. Lingkaran tersebut sebagai satu keseluruhan menentukan arti masing-masing bagian, dan bagian-bagian itu secara bersama-sama membentuk lingkaran. Lingkaran inilah yang disebut lingkaran hermeneutik (Poespoprodjo, 1987:44-45). Pemikiran Schleiermacher tentang hermeneutik itu digarap lebih lanjut oleh W. Dilthey (1833-1911) seorang ahli filsafat, juga dari Jerman, yang melihat hermeneutik sebagai metode ilmu sosial dan humaniora, yaitu semua studi yang menafsirkan ekspresi kehidupan kejiwaan manusia, seperti hukum tertulis, karya seni, dan karya sastra. Sejalan dengan pemikiran Schleiermacher, Dilthey juga berpendapat bahwa kegiatan pemahaman (verstehen) berlangsung di dalam prinsip  lingkaran hermeneutik. Keseluruhan diartikan berdasarkan bagian. Sebaliknya, bagian-bagian hanya dapat ditangkap dalam kaitan dengan keseluruhan (Poespoprodjo, 1987:65).

Selanjutnya, berkaitan dengan pengertian hermeneutik, Josef Bleicher (1990:1) menyatakan sebagai berikut.
Hermeneutics can loosely be defined as the theory or philosophy of the interpretation of meaning. It has recently emerged as a central topic in the philosophy of the social sciences, the philosophy of art and language and in literary criticism – even though its modern origin points back to the early nineteenth century.
The realization that human expressions contain a meaningful component, which has to be recognized as such by a subject and transposed into his own system of values and meanings, has given rise to the ‘problem of hermeneutics’:  how this process is possible and how to render accounts of subjectively intended meaning objective in the face of the fact that they are mediated by the interpreter’s own subjectivity.
Contemporary hermeneutics is characterized by conflicting views concerning this problem; it is possible to distinguish three clearly separable strands: hermeneutical theory, hermeneutic philosophy critical hermeneutics.
Hermeneutical theory focuses on the problematic of general theory of interpretation as the methodology for human sciences (or Geisteswissenchaften, which include the social sciences). Though the  analysis of verstehen as the method appropriate to the re-experiencing or re thinking of what an author had originally felt or thought, Betti hoped to gain an insight into the process of understanding in general, i.e. how we are able to transpire a meaning-complex created by someone else into our own understanding of ourselves and our world.
Selain itu, Josef Bleicher menyatakan bahwa teori hermeneutik menggunakan alat metodologis mengenai  lingkaran hermeneutik  (hermeneutic circle) yang di dalamnya terdapat sebuah teks didalami melalui interpretasi resiprokal (timbal balik) atas keseluruhan dan elemen-elemen pokoknya. Lingkaran hermeneutik (hermeneutic circle) dan filsafat hermeneutik jelas-jelas membungkus topik interpretasi dengan baik, dan dengan demikian, menghancurkan konsep-diri objektivitas ilmu-ilmu hermeneutik dengan mengacu pada peranan kesejarahan subjek. Saat “keseluruhan” tampak sebagai “cakrawala” yang menuntun “antisipasi kesempurnaan”, hermeneutik kritis menangkapnya kembali sebagai sebuah totalitas, seakan-akan darinyalah antisipasi dan tujuan sejarah, sebagai proses pembentukan kemanusiaan dan kritik atas masa lalu dan masa kini yang diterangi olehnya, menjadi mungkin untuk melengkapi interpretasi dengan makna peristiwa-peristiwa historis, seperti dijelaskan berikut ini.
Hermeneutical theory uses the methodological device of the hermeneutical circle in which a text is brought to the understanding through the reciprocal interpretations of a whole and its constituent elements. The ‘hermeneutic circle’ hermeneutic philosophy has evidenced envelops the subject of interpretation as well and thereby destroy the objectivist self-conception of the hermeneutical sciences by pointing to the role of the subject’s historically. Whereas here the ‘whole’ still appears as the ‘horizon’ which guides the ‘anticipation of perfection’ critical hermeneutics recast it is as a totality, as the process of the formation  of humanity and the critique of the past and present in its light, becomes possible in addition to the interpretation of the meaning of historical events (Bleicher, 1990: 258).
Kailan (2005:81-83) menyatakan bahwa lingkaran hermenutik adalah semacam pola penyelidikan ilmiah untuk interpretasi, karena di dalam lingkaran itu terdapat kategori, bagian-bagian, serta unsur-unsur yang telah ditentukan peneliti. Hubungan antara kategori satu dengan lainnya merupakan satu proses interpretasi. Simbol-simbol atau obyek verbal yang pada kebudayaan manusia selalu memiliki makna ganda, yaitu makna literal atau harfiah dan makna sesungguhnya. Makna yang pertama menghasilkan pemaknaan literal (harfiah); sedangkan makna kedua yang berada di balik makna literal, merupakan makna yang sesungguhnya, makna yang harus dicari, diterjemahkan, dan dipahami oleh peneliti. Di sisi lain, pada pemaknaan verbal teks harus dilihat sebagai hubungan antara peneliti dan pencipta teks. Hubungan antara pencipta teks dengan peneliti menyebabkan adanya dua posisi, yaitu distansi dan apropriasi. Penerapan cara kerja atau proses lingkaran hermeneutik tersebut dapat dilihat pada Skema 1 berikut.

Skema 1
PROSES PEMAKNAAN DALAM LINGKARAN HERMENEUTIK
          Selanjutnya, tujuan hermeneutik adalah untuk mencapai dan menemukan makna yang terkandung dalam obyek penelitian yang berupa fenomena kehidupan manusia, melalui pemahaman dan interpretasi (Irmayanti, 2002:70). Lebih jauh mengenai interpretasi, Teeuw  (2003:102-104) mengemukakan pendapatnya tentang interpretasi teks, sebagai berikut.
  .... interpretasi keseluruhannya tidak dapat dimulai tanpa pemahaman bagian-bagiannya, tetapi interpretasi bagian mengandaikan lebih dahulu pemahaman keseluruhan karya itu. Dalam praktik sastra, lingkaran itu dipecahkan  secara dialektik, bertangga dan lingkarannya sebenarnya bersifat spiral, mulai dari interpretasi menyeluruh yang bersifat sementara kita berusaha untuk menafsirkan anasir-anasir sebaik mungkin; penafsiran bagian-bagian pada gilirannya menyanggupkan kita untuk memperbaiki pemahaman keseluruhan karya, kemudian interpretasi itulah pula yang memungkinkan kita untuk memahami secara lebih tepat dan sempurna bagian-bagiannya, dan seterusnya, sampai pada akhirnya kita mendapatkan taraf penafsiran di mana diperoleh integrasi makna total dan makna bagian yang optimal....
.... Yang jelas pula: proses interpretasi  yang bertangga didasarkan pada asumsi atau konvensi ataupun aksioma bahwa teks yang dibaca mempunyai kesatuan, keseluruhan, kebulatan makna dan koherensi intrinsik. Dalam masyarakat sastra yang menganut konvensi dasar bahwa sebuah karya tidak harus mempunyai makna yang homogen, menyeluruh dan terintegrasi (seperti sastra India dan China), proses interpretasi tidak mungkin dikuasai oleh lingkaran hermeneutik yang hanya dapat dipecahkan secara bertangga....
.... Kalau seorang pembaca tidak berhasil mencapai interpretasi  integral dan total, hanya ada dua kemungkinan: karya itu gagal, atau pembaca bukanlah pembaca yang baik, kemungkinan ketiga tidak ada.

Interpretasi teks, bahasa, dan pemahamannya untuk mengemukakan kebenaran yang tersembunyi, yakni merupakan  isu sentral  hermeneutik filosofisnya Hans-Georg Gadamer. Menurut Richard E. Palmer dalam bukunya Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heiddegger, dan Gadamer (dalam Edi Mulyono, 2003:139), konsepsi Gadamer tentang hakikat bahasa ialah penolakannya terhadap ‘teori tanda’, karena penempatan bahasa sebagai tanda sama dengan memperkosa kekuatan primordialnya dan hanya mengeliminasinya semata  sebagai alat penanda. Hubungan primordial pembicaraan dan pemikiran terkikis menjadi hubungan instrumental saja. Kata menjadi alat pemikiran dan penentang sesuatu yang ditandai. Edi Mulyono (2003:139) menambahkan bahwa bahasa terbonsaikan sebagai kendaraan dan kehilangan kekuatan pengalaman dan tradisinya. Bahasa bukanlah semata alat yang kita gunakan, sesuatu yang kita konstruksikan untuk mengkomunikasikan dan membedakan. Menurut Gadamer  bahasa harus dipahami sebagai yang menunjuk pada pertumbuhan mereka secara historis, dengan kesejarahan makna-maknanya, tata bahasa, dan sintaksisnya. Dengan demikian, maka bahasa muncul sebagai bentuk-bentuk variatif logika pengalaman, hakikat, termasuk pengalaman historis/tradisi, di samping juga meliputi pengalaman supernatural/spiritual. Gadamer (1992:395) menambahkan pernyataannya seperti  berikut ini.
Furthermore, our conception of the nature of literary tradition contains a fundamental objection to the hermeneutical legitimacy   of the idea of the original reader. We saw that literature is defined by the will to hand on. But a person who copies and passes on is doing it for his own contemporaries. Thus the reference to the original reader, like that to the meaning of the author, seems to offer only a very crude historico-hermeneutical criterion that cannot really limit the horizon of a text’s meaning. What is fixed in writing has detached itself from the contingency of its origin and its author and made itself  free for new relationships. Normative concepts such as the author’s meaning or the original reader’s understanding in fact represent only an empty space that is filled from time to time in understanding.

Lebih jauh tentang penafsiran teks, Hans-Goerg Gadamer (1992:292) menyatakan seperti di bawah ini.
When we try to understand a text, we do not try to transpose ourselves into the author’s mind but, if one wants to use this terminology, we try to transpose ourselves into the perspective within which he has formed his views. But this simply means that we try to understand how what he is saying could be right. If we want to understand, we will try to make his argument even stronger. This happens even in conversation, and its a fortiori true of understanding what is written down that we are moving in a dimension of meaning that is intelligible in itself and such offers no reason for going back to the subjectivity of the author. The task of hermeneutics is to clarify this miracle of understanding, which is not a mysterious communion of souls, but sharing in a common meaning.
Di antara beberapa teori hermenutik, Hermeneutik Hans-Georg Gadamer  sangat relevan dipakai sebagai landasan teori dalam mengkaji pesan atau makna yang terkandung dalam teks-teks, yakni di dalamnya terdapat persepsi tentang SNM  yang terkandung dalam Svargarohaóaparva.

Sumber: Buku Persepsi Umat Hindu di Bali Terhadap Svarga, Naraka, dan Mokûa Dalam Svargarohaóaparva: Perspektif Kajian Budaya; Dr. I Made Titib, Ph.D; 2006 

Tidak ada komentar: